(BANDUNG, UNISA-BANDUNG.AC.ID) Bertahun-tahun mengandalkan proses produksi secara manual, UMKM Kremes Simadu di Desa Pasirhuni, Kabupaten Bandung, kini mulai bertransformasi setelah mendapat pendampingan dari tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Bandung melalui penerapan teknologi tepat guna. Pendampingan tersebut membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi hingga 40 persen sekaligus membuka peluang untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.
UMKM Kremes Simadu dirintis oleh Yuningsih bersama suaminya dengan mengolah ubi jalar menjadi kremes khas Desa Pasirhuni. Setelah suaminya meninggal dunia, Yuningsih melanjutkan usaha rumahan tersebut bersama beberapa pekerja sebagai salah satu upaya untuk menghidupi dan membesarkan ketiga anaknya.
Selama bertahun-tahun, proses produksi dilakukan secara manual, mulai dari mengupas dan mengiris ubi, menggoreng, hingga mengemas produk. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi terbatas, terutama ketika permintaan meningkat.
"Dulu semua serba manual, dari mengiris sampai menggoreng. Kalau pesanan lagi banyak, kami sampai kewalahan," kenang Yuningsih, Jumat (14/08/2026).
Perubahan mulai dirasakan setelah UMKM Kremes Simadu mendapatkan pendampingan dari tim PkM UNISA Bandung melalui program penerapan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah ubi. Program tersebut merupakan kegiatan PkM yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026 dan dilaksanakan pada rentang April hingga Agustus 2026.
Program ini diketuai oleh Minhajuddin, S.IP., M.Sos., dosen sekaligus Ketua Program Studi Perdagangan Internasional UNISA Bandung. Dalam pelaksanaannya, Minhajuddin didampingi oleh Nurul Aziz Pratiwi, M.M. dan Delfta Tunjung Baswarani.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada penggunaan alat produksi, tetapi juga mencakup penguatan tata kelola usaha. Tim PkM memberikan pengenalan, pelatihan, uji coba, hingga evaluasi penggunaan teknologi tepat guna agar para pekerja UMKM Kremes Simadu mampu mengoperasikan dan merawat alat secara mandiri.
"Kami didampingi tim dari UNISA Bandung, mulai dari pengenalan alat produksi yang lebih efisien hingga pendampingan manajemen usaha," ujar Yuningsih, Jumat (14/08/2026).
Minhajuddin menjelaskan bahwa penerapan teknologi tepat guna menjadi salah satu kebutuhan penting bagi UMKM olahan pangan yang masih mengandalkan proses produksi manual. Menurutnya, peningkatan efisiensi produksi perlu dilakukan tanpa menghilangkan kualitas rasa maupun kekhasan produk lokal yang menjadi identitas usaha.
"UMKM olahan pangan seperti Kremes Simadu punya potensi besar, tapi sering terkendala di sisi produksi. Lewat program ini, kami memperkenalkan alat yang bisa mempercepat proses produksi tanpa mengorbankan kualitas rasa dan kekhasan produk lokal," kata Minhajuddin, Jumat (14/08/2026).
Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi hingga 40 persen dibandingkan sebelum program berjalan. Peningkatan tersebut memungkinkan UMKM Kremes Simadu merespons permintaan pasar yang lebih besar sekaligus membuka peluang untuk memperluas distribusi produk di luar Desa Pasirhuni.
Selain kapasitas produksi, penerapan teknologi tepat guna juga membantu mengefisienkan waktu kerja. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat dipangkas sehingga pelaku usaha memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan aspek lain, seperti pemasaran dan pengemasan produk.
Desa Pasirhuni sendiri dikenal sebagai salah satu sentra penghasil ubi jalar di Kabupaten Bandung. Sebagian masyarakat menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan pengolahan pangan berbasis umbi-umbian. Namun, keterbatasan akses terhadap teknologi produksi menjadi salah satu tantangan bagi UMKM setempat untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing usahanya.
Karena itu, pendampingan yang dilakukan tim PkM UNISA Bandung diarahkan agar teknologi yang diberikan tidak berhenti pada penyerahan alat. Pelaku usaha juga dibekali kemampuan untuk mengoperasikan serta merawat teknologi tersebut secara berkelanjutan.
"Kami tidak ingin pendampingan ini berhenti di penyerahan alat saja. Yang terpenting adalah masyarakat benar-benar mampu menggunakan dan merawat teknologi tersebut secara berkelanjutan," ujar Minhajuddin, Jumat (14/08/2026).
Program PkM ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong pemanfaatan teknologi bagi UMKM di tingkat desa. Bagi tim PkM UNISA Bandung, pendampingan tersebut juga menjadi bentuk sinergi antara akademisi dan pelaku usaha dalam mendorong peningkatan produktivitas serta daya saing usaha berbasis potensi lokal.
Ke depan, pendampingan terhadap UMKM Kremes Simadu akan dilakukan secara berkelanjutan agar peningkatan kapasitas yang telah dicapai dapat terus berkembang. Tim PkM UNISA Bandung juga berharap model pendampingan serupa dapat diterapkan pada UMKM lain di Kabupaten Bandung melalui kolaborasi dengan pemerintah desa maupun pihak terkait.
Bagi Kremes Simadu, dukungan tersebut menjadi langkah baru untuk mengembangkan usaha yang selama ini bertumpu pada proses produksi manual. Dari usaha rumahan yang diwariskan dan dijalankan dengan keterbatasan alat, Kremes Simadu kini memiliki peluang untuk tumbuh lebih produktif dan menjangkau pasar yang lebih luas. (*)
